Web Statistik

Visitors: 493428

Sedang Online: 5

Sintren Cirebonan; Khasanah Budaya Lokal

wahyu2Bertolak dari Pikiran Rakyat Online  Rabu, 25 Mei 2011 tentang berita Sintren di Cirebon penulis coba menjelaskan bagaimana sebenarnya pertunjukan Sintren dilakukan. Cirebon sebagai kota yang terletak di wilayah Pantai Utara Tanah Jawa, merupakan jalur perlintasan transportasi kendaraan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Cirebon yang berjuluk Kota Udang, duhulu merupakan pusat penyebaran Islam di Jawa Barat oleh Sunan Gunung Jati. Cirebon juga terkenal memiliki keragaman budaya, yang kuat bernuansa religi dan kaya akan kesenian tradisionalnya, di antaranya Tarling, Tari Topeng, Barok, Rudat, Mapag Sri, Sintren. Kesenian Cirebonan berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya dan mempunyai fungsi yang berbeda-beda, seperti halnya Sintren.

Kebudayaan Cirebon yang sekarang ada merupakan bagian budaya hasil pengaruh perkembangan budaya masa lampau. Dalam perkembangan budaya dan agama sebenarnya memiliki suatu benang merah. Kebudayaan pada dasarnya merupakan manifestasi sistem gagasan manusia yang dilatar belakangi ilmu pengetahuan, kepercayaan, norma, dan nilai-nilai sosial budaya yang dianutnya. Wujud kebudayaan adalah tindakan seseorang pada sistem budaya tersebut. Maka wajar para pelaku seni tidak mempermasalahkan apakan pertunjukan Sintren musrik atau bukan. Sementara agama secara praktis adalah pengamalan norma dan nilai-nilai keprcayaan berdasarkan pengetahuan yang diterima seseorang pada titik yang sama yakni tindakan seseorang berdasarkan kepercayaan, norma-norma, pengetahuan, dan nilai-nilai yang diyakininnya. Meskipun demikian, di antara keduanya bisa berbeda, karena kebudayaan hasil pemikiran dan gagasan manusia, sedangkan Agama adalah ide atau gagasan yang berumber dari wahyu Tuhan.

Dari segi asal bahasa (etimologi) Sintren berasal dari dua suku kata Si dan Tren. “Si” dalam bahasa Jawa Cirebon berarti “Dia” atau “Ia” dan “Tren” berarti “ Tri” panggilan buat kata putri, yang menjadi pemeran utama dalam kesenian Sintren (Sugiarto 1989:15). Pada awalnya pagelaran Sintren disajikan pada waktu malam sunyi dalam malam bulan purnama, tempat yang digunakan adalah arena terbuka biasanya di tengah-tengah pertunjukan Sintren dipasang Oncor sebagai alat penerang dan penonton mengelilingi arena pertunjukan tanpa ada jarak dengan penari, hal ini dilakukan agar penonton bisa melakukan saweran dengan melemparkan sapu tangan yang telah di isi dengan uang.

Alat musik yang khas mengiringi pertunjukan tari Sintren pada mulanya hanya memakai alat musik sederhana. Pertama, Buyung alat musik yang terbuat dari tanah liat yang atasnya ditutup lembar karet berfungsi sebagai gendang. Kedua, Tutukan alat musik yang terbuat dari bambu panjang besar sebagai pengganti alat musik bas. Ketiga, Bumbung ruas bambu yang berukuran kecil yang berfungsi sebagai melodi. Keempat, Kendi yang terbuat dari tanah liat berfungsi sebagai gong, dan yang Kelima, Kecrek sebagai pengatur ritme nada. Karena perkembangan jaman, alat musik pada setiap pagelaran Sintren di tambah alat musik Gamelan.

Busana yang digunakan pada waktu pertunjukan Sintren dulunya berupa kain kebaya, sekarang penari Sintren menggunakan baju golek baju yang digunakan pada pertunjukan tari golek. Adapaun busana tambahan sebagai pelangkap pada pertunjukan tari Sintren dari duhulu sampai sekarang hampir sama. Seperti, Kain Batik Liris untuk bawahan, Celana Cinde yaitu celana yang panjangnya sampai lutut, Jamang atau hiasan rambut yang dipakai dikepala, kaos kaki, dan kaca mata hitam.

Turun-turun Sintren
Sintrene widadari
Nemu kembang ning ayunan
Nemu kembang ning ayunan
Kembange siti mahendara
Widadari temurunan ngaranjing ning awak ira

Lantunan lagu yang khas yang dinyanyikan oleh seorang sinden pada pertunjukan Sintren sebagai pembuka acara akan terasa sejuk dan menenangkan jiwa ketika para penonton mendengarnya. Tembang Turun Sintren dijadikan sebagai tembang pembuka dalam pertunjukan Sintren, pada prosesi ini Mulandang (Pawang Sintren) membacakan mantra agar roh sulasih masuk ke dalam tubuh penari Sintren. Dan kemudian lagu sulasih dinyanyikan berulang-ulang menunggu penari Sintren di dalam kurungan, Tembang Sih Solasih adalah tembang permohonan agar tali yang mengikat pada penari Sintren dapat terlepas, Adapun syair lagu Sih Solasih adalah sebagai berikut:

Sih solasih sulandana
Menyan putih pengundang dewa
Ala dewa saking sukma
Widadari temurunan

Pertunjukan Sintren kemudian disusul dengan lagu Kembang Gewor sebagai penyambutan pada penari pengiring atau bodoran yang mengelilingi Sintren di dalam kurungan. Syair lagu kembang gewor adalah sebagai berikut:

Turun-turun sintren Sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange si jaya Indra
Widadari temurunan
Kang manjing ning awak ira
Turun-turun sintren sintrene widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembange si jaya Indra
Widadari temurunan

Kembang gewor bumbung kelapa lumeor
Geol-geol bu Sintren garepan njaluk bodor
Bumbune kelapa muda
Goyang-goyang nyi sintern minta bodor

Pada pertunjukan Sintren iringan lagu hiburan di sesuaikan dengan keadaan masyarakat sekarang, dan lagu penutup di akhiri dengan tembang Kembang Jae Laos dan tembang  Kembang Kilaras, iringan turun Sintren sebagai petanda permainan Sintren akan usai, tembang piring kedawung untuk melepas roh dewi sulasih dan Sintren berganti busana keseharian. Adapun syair lagu Kembang Kilaras adalah sebagai berikut:

Kembang kates gandul
Pinggire kembang kenanga
Kembang kates gandul
Pinggire kembang kenanga
Arep ngalor garep ngidul
Wis mana gageya lunga

Kembang kenanga
Pinggire kembang melati
Kembang kenanga pinggire
Kembang melati
Wis mana gageya lunga
Aja gawe lara ati

Kembang jahe laos
Lempuyang kembange kuning
Kembang jahe laos
Lempuyang kembange kuning
Ari balik gage elos sukiki menea maning

Perkembangan Sintren
Sintren pada masa sekarang mengalami pergeseran budaya, bukan hanya pada pertunjukan Sintrennya saja tetapi juga pada profil penari Sintren. Penari Sintren jaman duhulu harus melalui seleksi super ketat, untuk menjadi penari Sintren harus melakukan puasa sehari semalam (Matigeni) dan dalam pertunjukan Sintren harus dilakukan oleh seorang gadis remaja yang masih perawan, sedangkan pada masa sekarang remaja putri lebih senang duduk di depan televisi dibandingkan untuk melestarikan budaya tradisonalnya sendiri. Selain itu para remaja sekarang sangat jarang yang mau melakukan ritual puasa seperti halnya yang dilakukan penari Sintren jaman dahulu.

Perubahan pertunjukan Sintren disebabkan beberapa hal di antaranya adalah karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, hal ini berpengaruh kuat terhadap Sintren Cirebonan. Dengan adanya media elektronik, seperti televisi, radio bahkan yang sedang nge-pop adalah internet, bagi sebagian masyarakat hal ini memudahkan untuk mengakses hiburan, mereka tidak perlu lagi untuk pergi ke pertunjukan seni atau tempat-tempat yang mempertunjukan hiburan seperti dulu, hal inilah yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni tradisional, khususnya Sintren. Dengan adanya pergeseran minat masyarakat terhadap Sintren. Semoga saja pemerintah daerah Jawa Barat, beserta dinas-ninas terkait dan seluruh lapisan masyarakat, selalu berupaya keras untuk melestarikan khazanah budaya tradisional.

Penulis, Mahasiswa Pascasarjana Prodi Sejarah Kebudayaan Islam. Presiden Mahasiswa Pascasarjana UIN Bandung. Tinggal di Indramayu.

Sumber Pikiran Rakyat, 12 Juni 2011

Paperless

© 2010 Knowledge Leader PPS UIN SGD Bandung | Email: redaksi@knowledge-leader.net