Web Statistik

Visitors: 507340

Sedang Online: 4

Kohkol-Bedug: Media Komunikasi Tradisional Masyarakat Muslim Pedesaan

asmuhtadiKentongan itu berbunyi tiga kali. Seseorang sengaja mendatangi masjid untuk menabuh kentongan. Ia memukulnya berulang-ulang sebanyak tiga kali. Lalu diikuti oleh masjid yang lain, dengan maksud meneruskan suara agar dapat menjangkau wilayah yang lebih luas. Dengan bunyi seperti itu, masyarakat di sekitar pun segera mengetahui kalau salah seorang warganya meninggal dunia. Mereka kemudian mencari tahu siapa dan di rumah mana ada orang yang meninggal dunia. Lalu mereka berkumpul, bahu membahu menyiapkan segala kebutuhan untuk mengurus jenazah. Tanpa ada birokrasi ataupun perintah dan mekanisme yang seharusnya dilalui, proses itu berlangsung alamiah.

Pada kesempatan lain, kentongan itu kembali berbunyi. Kali ini nadanya berbeda. Masyarakat pun paham. Dari nada bunyi yang terus ditabuh seperti itu, mereka tahu bahwa ada kejadian penting yang membutuhkan bantuan warga. Benar saja. Nada kentongan kali ini menginformasikan ada kebakaran. Rumah penduduk terbakar dan butuh pertolongan. Warga pun segera siaga memberi bantuan. Mereka datang dengan perangkat seadanya, apapun yang dapat digunakan untuk mematikan nyala api, atau menolong mengevakuasi penghuninya, ataupun menyelamatkan barang-barang miliknya.

Dua contoh peristiwa di atas mengilustrasikan fungsi kentongan dalam proses komunikasi masyarakat pedesaan khususnya di kawasan kebudayaan Pasundan.[2] Ia menjadi bagian penting dalam kehidupan orang Sunda. Bahkan, karena kedekatannya dengan kehidupan mereka, kentongan kemudian diadaptasi untuk kebutuhan lainnya, seperti digunakan para penjual makanan bakso untuk menawarkan dagangannya. Kentongan yang digunakan sebagai media komunikasi para penjual bakso ini dibuat sedemikian rupa dalam ukuran yang jauh lebih kecil, kira-kira berdiameter 5-7 sentimeter dengan panjang sekitar 15-20 sentimeter.

Kentongan, atau lebih populer disebut Kohkol, yang ada di masjid atau langgar/tajug[3], umumnya terbuat dari bambu atau kayu. Bambu dipotong pada buku-bukunya, dan di tengah-tengahnya diberi lubang panjang agar ketika dipukul bersuara lebih nyaring. Kayu juga dilubangi bagian tengahnya, kemudian diberi lubang panjang seperti halnya kohkol yang terbuat dari bambu. Ukurannya bervariasi, tetapi tetap berbentuk bulat panjang, dipukul dengan alat pemukul yang keras sehingga menimbulkan suara. Istilah kentongan lebih umum digunakan dalam fungsi yang sangat bervariasi, sementara kohkol hanya digunakan untuk menamai kentongan yang ditempatkan di masjid atau langgar/tajug.

Kentongan juga sangat populer digunakan sebagai alat komunikasi Siskamling (Sistem keamanan lingkungan) yang biasa melibatkan warga masyarakat setempat. Kentongan yang digunakan untuk fasilitas keamanan ini biasanya berukuran lebih kecil dari kentongan yang ada di masjid dan lebih besar dari kentongan yang biasa digunakan para pedagang bakso. Warga desa — dan sebagian warga pinggiran kota — secara bergiliran mendapat tugas pengamanan lingkungan. Mereka dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil sebanyak sesuai jumlah warga yang ada pada suatu lingkungan. Setiap kelompok rata-rata terdiri dari lima orang dan kebagian giliran bertugas rata-rata satu kali pada setiap bulan. Setiap kelompok dilengkapi kentongan untuk dibunyikan dengan cara dipukul dengan alat pukul tersendiri. Kentongan dibunyikan untuk menunjukkan adanya kelompok Siskamling yang tengah bertugas menjaga keamanan. Kentongan juga berfungsi sebagai alat komunikasi petunjuk waktu pada malam hari. Pada setiap jam berubah, kentongan ini dibunyikan sebanyak jumlah angka jam. Pada pukul 02.00 tengah malam, misalnya, seorang petugas Siskamling membunyikan kentongan sebanyak dua kali pukulan.

Selain berfungsi sebagai alat komunikasi keamanan lingkungan atau sebagai petunjuk waktu seperti disebutkan di atas, kentongan juga berfungsi sebagai media informasi tentang sesuatu kejadian. Jika terjadi sesuatu yang berbahaya atau dapat membahayakan, seperti ada rumah yang didatangi rampok/maling, kebakaran, kematian, atau peristiwa-peristiwa lainnya, kentongan biasa dibunyikan dengan beberapa kali pukulan secara berturut-turut untuk memberi tahu warga setempat tentang kejadian itu. Melalui media kentongan dengan nada yang bervariasi, masyarakat setempat umumnya mengerti dan otomatis memahami apa yang harus dilakukannya ketika mendengar isyarat bunyi tersebut.

Kohkol yang ada di masjid-masjid hampir selalu berdampingan dengan media lain yang disebut bedug. Bedug adalah sejenis gendang besar dan panjang, atau semacam drum besar. Terbuat dari batang pohon kayu gelondongan besar yang dilubangi, memanjang hingga kira-kira dua meter atau lebih. Berbentuk silinder atau cembung simetris. Mulutnya ada yang hanya ditutup satu saja dengan kulit kerbau atau kulit sapi, ada pula yang ditutup kedua belah mulutnya. Dibuat dengan cara yang sangat tradisional, seperti pemasangan kulit dengan memakai kayu pasak atau paku-paku berkepala besar.

Bedug ditabuh beriringan dengan kohkol. Dipukul dengan alat pemukul khusus, panakol bedug, terbuat dari kayu biasa kira-kira sebesar pergelangan tangan anak dengan panjang sekitar 30 centimeter. Jika dipukulkan ke kulit bedug akan keluar suara berdegum. Di masjid-masjid, tajug atau langgar, bedug selalu berdampingan dengan kohkol, sehingga panakol bedug (pemukul bedug) sekaligus juga berfungsi sebagai alat pemukul kohkol.

Di sejumlah masjid, khususnya masjid-masjid besar yang ada di ibu kota kecamatan, bedug hanya dapat dibunyikan oleh petugas khusus yang disebut Merebot. Istilah merebot sendiri diambil dari bahasa Arab, marbut, artinya yang merawat masjid. Merebot adalah orang yang diberi tugas khusus merawat masjid, baik aspek kebersihan maupun keamanannya. Selain itu, sesuai dengan proses adaptasi fungsi terutama di kawasan pedesaan Pasundan, ia juga berkewajiban memukul bedug tanda waktu shalat sudah tiba. Kadang-kadang merebot disebut pula modin (dari bahasa Arab, muadzin) bila bertugas tambahan sebagai tukang adzan. Tetapi, di masjid-masjid besar, dua tugas ini sering diperankan oleh dua orang petugas yang berbeda, merebot dan modin.

Merebot berperan sebagai komunikator penting pada masyarakat muslim khususnya di wilayah pedesaan, yang dengan fasilitas kohkol-bedug memberi informasi waktu shalat, atau dengan kohkol saja memberi informasi kejadian-kejadian yang layak diketahui masyarakat. Seorang merebot umumnya mengetahui aturan tradisional memukul bedug. Bedug dibunyikan dengan nada yang tidak sembarangan. Setiap jenis bunyi memiliki maknanya yang berbeda-beda. Suara bedug pada waktu shalat dzuhur berbeda dengan bunyi saat tiba waktu ashar, dan demikian seterusnya.

Bahkan, ketika bedug ditabuh dalam tradisi ngadulag, ia memiliki makna tersendiri. Ngadulag adalah tradisi menabuh bedug secara terus menerus dengan nada yang diatur tersendiri. Biasanya, ngadulag dilakukan pada saat iedul fitri atau iedul adlha. Selama bulan ramadhan ngadulag juga biasa dilakukan menjelang makan sahur untuk membangunkan masyarakat yang masih tidur, dan sesudah shalat tarawih. Cerita pendek Dulag Nalaktak karya Usep Romli (2005), misalnya, menggambarkan ketatnya etika dan aturan menabuh dulag. Bedug tidak ditabuh dengan nada sembarangan karena bunyinya memiliki pesan komunikasi tersendiri. Masyarakat muslim pedesaan umumnya memahami pesan-pesan dimaksud. Mereka memperoleh pengetahuan tentang makna pesan tersebut dari orangtua atau para leluhur yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Kohkol dan bedug memang memiliki peranan penting bagi masyarakat pedesaan, khususnya di kawasan tatar Sunda. Kohkol dan bedug terletak di masjid, sehingga masjid menjadi sangat sentral dalam kehidupan mereka. Bahkan kohkol dan bedug yang posisi dan fungsinya saling melengkapi itu merupakan simbol keagamaan yang memiliki peran sosial yang amat strategis. Masyarakat desa percaya kalau bunyi kohkol itu mengisyaratkan informasi tertentu sesuai dengan jumlah bunyi dan cara irama pukulannya. Seperti disebutkan di atas, ia berfungsi bukan hanya memberi tahu waktu, tapi juga menjadi saluran informasi kematian, kebakaran, dan berbagai informasi penting lainnya.


Hingga saat ini, hampir di semua pelosok kampung di wilayah Pasundan, kohkol dan bedug masih memegang peran informasi yang belum sepenuhnya tergantikan oleh media modern lainnya. Meskipun hampir setiap rumah di desa telah dilengkapi jam dinding, ia masih dipercaya sebagai media untuk memberi tahu waktu, terutama antara pukul 02.00 hingga 03.00 pagi hari. Bahkan pada bulan ramadhan, peran ini lebih terasa karena pada jam-jam tersebut orang-orang Islam harus bangun untuk makan sahur. Yang lebih utama lagi, kohkol dan bedug digunakan untuk memberi tahu waktu shalat. Bunyi kohkol dan bedug bervariasi sesuai dengan masing-masing waktu. Irama kohkol saat datang waktu dhuhur berbeda dengan irama kohkol saat datang waktu ashar, dan demikian seterusnya. Masing-masing waktu memiliki isyarat sendiri-sendiri. Bahkah irama bedug ashar hari Jum’at berbeda dari ashar hari Senin. Masyarakat umumnya sudah memahami isyarat irama tersebut.

Kenyataan ini telah berlangsung cukup lama, jauh sebelum aliran listrik menyentuh desa hingga saat ini ketika listrik sudah masuk ke desa-desa. Meski adzan sudah bisa dikumandangkan dengan fasilitas pengeras suara, kohkol dan bedug masih tetap digunakan. Biasanya, adzan dikumandangkan setelah kohkol dan bedug dibunyikan. Dalam urusan waktu, masyarakat desa bahkan lebih memprioritaskan kohkol-bedug ketimbang adzan sendiri. Ketika bertanya waktu shalat, mereka lebih cenderung menanyakan “Geus bedug acan?” (sudah [berbunyi] bedug belum?) ketimbang “Geus adzan acan?” (sudah [berkumandang] adzan belum?).

Satu cerita pendek[4] karya Yous Hamdan (2006) berjudul Bedug, menggambarkan kedekatan — atau bahkan ketergantungan — masyarakat terhadap bedug karena fungsi sentralnya yang belum tergeser media modern sekalipun. Seorang modin (muadzin, petugas khusus adzan), seperti digambarkan dalam cerita tersebut, tidak berani mengumandangkan adzan jika belum diawali dengan memukul bedug meskipun telah masuk waktu shalat.

Seperti disebutkan di atas, selain pada setiap datang waktu shalat, bedug ditabuh lebih sering pada bulan ramadhan. Bedug ditabuh dalam nuansa irama yang khas dengan nada yang beraturan membentuk musik tradisional. Karena keindahan itu pula menabuh bedug bulan ramadhan ini menjadi sarana hiburan, terutama ketika selesesai melaksanakan shalat tarawih. Tradisi ini disebut Ngadulag dan sangat diminati masyarakat muslim pedesaan, khususnya anak-anak dan remaja.

Pada dua hari raya iedul fitri dan iedul adlha, acara ngadulag digelar sehari penuh, sejak pagi sehari sebelum tiba hari raya hingga hari raya tiba. Pada malam menjelang iedul fitri (biasa disebut malam takbiran), bedug ditabuh dan dibawa keliling kampung. Ia berfungsi selain media pemberitahuan bahwa hari raya telah tiba, juga sekaligus menjadi media ekspresi kebahagiaan telah selesai melaksanakan puasa sebulan penuh, terutama bagi anak-anak. Jika masyarakat perkotaan saat ini menunggu pengumuman tanggal 1 Syawal dari televisi, maka masyarakat pedesaan masih mengandalkan pengumuman dari masjid dengan menunggu bunyi dulag.

Terpeliharanya Tradisi

Tradisi masyarakat desa seperti disebutkan di atas, saat ini juga banyak ditemukan di lingkungan masyarakat perkotaan. Diduga kuat, kenyataan ini merupakan salah satu efek proses urbanisasi yang berlangsung cukup lama. Orang-orang desa yang kuat memegang tradisi beragama berpindah ke kota karena alasan-alasan yang sangat beragam. Banyak orang desa di tatar Sunda yang sengaja hijrah ke kota untuk tujuan pendidikan, usaha/kerja, atau karena alasan lainnya, tetap kuat memegang tradisi, termasuk tradisi beribadah. Mereka mendirikan masjid-masjid, langgar atau tajug, sekaligus melengkapinya dengan kohkol dan bedug.

Kohkol dan bedug memang kemudian menjadi simbol komunitas muslim tradisional atau biasa diidentifikasi sebagai pengikut kaum nahdliyin. Hingga sekitar dekade 1970-an, sempat ada kontroversi antara kalangan tradisionalis dan modernis. Salah satu tema yang diperbincangkan adalah berkaitan dengan penggunaan kohkol dan bedug di masjid-masjid. Kalangan modernis yang di antaranya tergabung dalam organisasi Persatuan Islam (Persis) dan Muhammadiyah menganggapnya sebagai sesuatu yang diada-adakan (bid’ah). Kohkol dan bedug yang dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah dipandang baru dan tidak pernah ada pada zaman Rasulullah. Karena itu, hingga saat ini, tidak akan ditemukan kohkol dan bedug di masjid-masjid yang didirikan komunitas Persis dan Muhammadiyah.

Sementara kaum tradisionalis yang umumnya tergabung dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) juga menganggap bahwa kohkol dan bedug merupakan sesuatu yang baru, tidak ditemukan pada zaman Nabi, tetapi tidak bertentangan dengan prinsip ibadah dalam Islam. Kohkol dan bedug tidak lebih dari alat bantu untuk memberi informasi khususnya berkaitan dengan waktu shalat. Kohkol-bedug dianggap tidak merusak keshahihan beribadah karena ia tidak melekat pada pelaksanaan shalat itu sendiri. Karena itu, kohkol dan bedug dipandang legal berada di masjid dan digunakan untuk memberi tahu datangnya waktu shalat.

Terlepas dari kontroversi di atas, hingga saat ini kohkol-bedug tetap berperan sebagai media komunikasi tradisional, khususnya di lingkungan masyarakat muslim pedesaan. Bahkan fungsinya kini semakin melebar dan masuk ke wilayah-wilayah budaya yang lebih luas. Pada pembukaan Festival Istiqlal, sebuah acara pameran kebudayaan Islam di Jakarta, presiden Soeharto menandai peresmian acara dengan memukul bedug yang diikuti oleh menabuh bedug secara serempak dan massal. Acara ini dikenal dengan Rampak Bedug, dan sejak itu pula tradisi menabuh bedug semakin populer di masyarakat perkotaan, bukan saja di masjid-masjid tapi juga pada event-event bernuansa keagamaan lain yang lebih besar.

Bedug juga sering digunakan dalam gamelan Wayang Kulit atau Wayang Golek Papak. Bedug menjadi pelengkap instrumentalia dengan suara yang khas memberi nuansa gamelan lebih hidup. Di sejumlah daerah di Jawa Barat biasa digelar pertandingan adu bedug (festival bedug) terutama pada hari-hari sesudah iedul fitri (lebaran). Ia menjadi pesta masyarakat desa, di mana satu sama lain dapat saling berkomunikasi, bertukar rasa dan pengalaman. Belakangan bahkan bedug hadir di acara-acara formal sebagai tanda telah dibukanya secara resmi. Sejumlah acara di luar acara keagamaan, seperti kongres partai politik, dibuka dengan pemukulan bedug. Pemukulan Gong kini mulai tergeser oleh pemukulan bedug.

Di pusat ibu kota Jawa Barat, Kota Bandung, dikenal Haji Eyot. Istilah ini diambil dari bahasa Sunda, Haji Geyot, yaitu asesoris kota yang di pasang selama bulan ramadhan dengan menampilkan boneka besar dengan kostum seorang haji menabuh bedug (dulag) sambil menggoyang-goyangkan pantatnya (dalam bahasa Sunda disebut ngageyot). Boneka ini sengaja dibuat dan dipasang di setiap sudut kota untuk menyambut dan menyemarakkan bulan suci ramadhan.

Istilah bedug juga digunakan untuk mewakili pesan tertentu. Di lingkungan masyarakat Sunda, misalnya, dikenal peribahasa jauh ka bedug. Peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan daerah kampung pedalaman, suatu tempat yang jauh ke kota. Makna jauh ka bedug seperti ini kini diperkuat oleh semakin meluasnya eksistensi bedug dan menjadi tradisi baru masyarakat kota. Dulu, jauh ka bedug (jauh ke tempat bedug) berarti suatu kampung yang jauh ke ibu kota kecamatan, tempat berdirinya masjid besar tingkat kecamatan yang disimbolisasi dengan adanya bedug. Kini, boleh jadi, jauh ka bedug berarti tempat yang jauh dari kota yang biasa diselenggarakan festival-festival bedug, event-event formal yang dibuka dengan pemukulan bedug, atau, di Jawa Barat, berarti jauh ke ibu kota propinsi tempat berdirinya Haji Eyot.

Fenomena di atas menggambarkan masih kuatnya tradisi komunikasi melalui saluran media yang sangat sederhana, kohkol-bedug. Tradisi seperti ini masih kuat melekat pada masyarakat pedesaan saat ini, khususnya kalangan muslim pedesaan di tatar sunda. Derasnya arus teknologi informasi dan komunikasi yang masuk hingga ke pelosok desa, tampak tidak sanggup menggeser peran media tersebut. Meskipun media modern telah menyentuh masyarakat desa, ia baru merupakan penggenap identitas, dan belum memerankan fungsinya secara maksimal.

Meskipun demikian, masyarakat muslim desa tetap responsif terhadap perkembangan modernisasi yang terjadi. Meski awalnya bedug dipandang sangat tradisional karena bentuk dan fungsinya yang juga tradisional, tapi tradisi menabuh bedug dapat mengikuti irama musik modern. Oleh para penggunanya irama menabuh bedug terus direformulasi sesuai dengan perkembangan zaman. Jika dulu para merebot tidak pernah membolehkan anak-anak memodifikasi irama menabuh bedug karena alasan telah baku sesuai makna pesan yang dikandungnya, kini bedug ditabuh dengan irama yang sangat bervariasi. Misalnya, ada irama bedug yang mirip musik dangdut, atau mengikuti irama drum yang biasa digunakan dalam band, atau menirukan musik drum besar pada marching-band.

Dalam konteks budaya material, masyarakat desa tampak berusaha merespon datangnya berbagai produk teknologi terutama teknologi komunikasi dan informasi. Pada saat bedug masih dominan sebagai media tradisional, alat pengeras suara (speaker) juga diterima sebagai fasilitas tambahan yang juga dipasang di masjid-masjid. Bahkan, masih ada lapisan masyarakat yang meyakini bedug sebagai bagian “sakral” dari eksistensi sebuah mesjid. Komitmen tradisi inilah yang sanggup memelihara kehadiran bedug di tengah perkembangan masyarakat muslim khususnya di pedesaan.

Masyarakat desa kini semakin plural, terutama karena proses perpindahan penduduk dan perkawinan yang semakin terbuka. Namun demikian, homogenitas kulturalnya masih relatif terpelihara, misalnya dengan “memaksa” pendatang untuk menyesuaikan diri dengan tradisi yang dianut penduduk lokal. Fenomena meminggirkan pendatang yang dipandang mahiwal (asing, di luar mainstream) masih biasa terjadi di kalangan masyarakat desa saat ini. Dalam konteks beragama, kehadiran non-muslim pada masyarakat perdesaan di Jawa Barat masih dipandang aneh. Hal ini sekaligus memperkuat anggapan bahwa “Sunda itu Islam (ngislam) dan Islam itu Sunda (nyunda)”.

Tradisi beragama masyarakat desa dikenal kuat memegang paham ibadah ahl sunnah wa al-jamaah dalam pengetian kaum nahdliyin. Mereka masih kuat mempertahaknkan kohkol dan bedug di setiap mesjid yang mereka dirikan. Penduduk muslim pedesaan pengikut aliran modernis, seperti Persis dan Muhammadiyah yang tidak familiar dengan bedug, pada kebanyakan desa masih dipandang teu ilahar (tidak biasa). Orang Islam yang tidak biasa kunut ketika shalat shubuh, hampir tidak akan pernah diangkat sebagai imam shalat. Meskipun demikian, toleransi di kalangan perbedaan madzhab itu pelan-pelan semakin mencair seiring dinamika pergaulan yang semakin terbuka, sehingga saat ini tidak banyak ditemukan konflik antar pengikut masdzhab.

Dalam ekspresi kebudayaan, termasuk berbicara dan berpakaian, masyarakat desa saat ini memperlihatkan gejala semakin permisif. Hal-hal yang sebelumnya dipandang tabu, kini samakin longgar dilakukan. Kaera (rasa malu) dalam melakukan hal-hal yang sebelumnya dipandang melanggar norma juga semakin memudar. Bahkan, meskipun eksklusifisme kepenganutan beragama masih tampak kuat, tapi dalam pelaksanaan ibadah-ibadah formal semakin berkurang. Gejala ini mulai terlihat terutama karena adanya pengaruh “kota” yang disadari ataupun tidak disadari dibawa oleh para pemudik yang lama tinggal di kota. Ada kecenderungan “pamer” yang diperankan para pemudik ketika mereka berada di desa.

Meskipun demikian, sejumlah tradisi yang dapat menjadi media berkomunikasi seperti gotong royong masih melekat pada masyarakat desa saat ini. Mereka biasa berpartisipasi, bahu membahu dalam pembangunan rumah pribadi sekalipun, apalagi fasilitas umum seperti pembangunan masjid dan madrasah. Saling bertukar makanan sebelum ramadhan, atau dalam suasana ramadhan, atau menjelang lebaran, juga masih menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Istilah mawakeun yang diwujudkan dalam tradisi saling memberi makanan, terutama mawakeun dari calon menantu kepada calon mertua juga masih melekat pada kehidupan muslim pedesaan.

Tradisi ini diyakini mereka sebagai wujud pelaksanaan ajaran agama yang substansinya terletak pada keinginan manggihan (menemui) atau bersilaturahmi. Bahkan dalam suasana iedul fitri, tradisi ini terikat pada ajaran silaturahmi untuk sekaligus saling memaafkan. Yang menarik lagi, tak jarang, jika kiriman yang diterimanya hanya alakadarnya, dapat mengundang umpatan si terkirim. Memang ada sedikit pergeseran khususnya dalam hal jenis barang atau makanan yang dikirimkan. Jika dulu selalu memprioritaskan hasil bikinan sendiri dengan maksud silih asaan (untuk saling mencicipi), kini makanan itu bukan lagi hasil karya sendiri.

Dalam konteks berkomunikasi, anggapan “Islam itu sunda dan sunda itu Islam” hingga kini masih terlihat dalam beberapa ungkapan bahasa, seperti dalam penggunaan kosa kata alhamdulilah, insya Allah, syukur, assalamu’alaikum, dan lain sebagainya. Ungkapan salam yang diikuti bersalaman masih merupakan tradisi yang kuat di kalangan masyarakat muslim perdesaan. Selain itu, kosa kata Sunda yang berakar pada kata arab juga masih banyak ditemukan dalam komunikasi lisan mereka, seperti ungkapan masya Allah, innaa lilaahi, subhaanallah, dan lain sebagainya. Bahkan petatah petitih sunda, meski sudah semakin tidak dikenal di masyarakat khususnya anak-anak, masih tampak dalam berbagai ekspresi kehidupan mereka.

Kekuatan memelihara tradisi inilah yang kemudian menjadi daya dukung kokohnya eksistensi kohkol dan bedug di masjid-masjid, tajug/langgar, dan bahkan mulai masuknya bedug ke arena formal. Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, kohkol dan bedug masih memiliki tempat tersendiri khususnya bagi masyarakat muslim di pedesaan.

Ekspresi Bahasa, Rasa dan Budaya

Bedug sering digunakan sebagai saluran ekspresi bahasa dan rasa. Jika bahasa Sunda secara umum masih digunakan dalam berkomunikasi masyarakat, irama bedug dalam banyak hal sesungguhnya merepresentasikan pesan verbal tertentu yang hanya relevan dengan bahasa Sunda. Pesan verbal itu sulit diekspresikan dalam bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia. Suara dan irama dulag yang ditabuh menjelang makan sahur pada bulan ramadhan, misalnya, jika dicermati dengan menggunakan rasa bahasa Sunda, seolah menyuarakan pesan verbal tertentu untuk membangunkan orang-orang yang masih tidur, seperti:

Hudangkeun jang, hudangkeun

Hudangkeun jang, hudangkeun

(bangunkan hai anak laki-laki, bangunkan!)

Benar bahwa hingga saat ini Bahasa Sunda secara umum masih digunakan dalam berkomunikasi masyarakat desa di tatar sunda, termasuk dalam berkomunikasi melalui media modern seperti halnya hand-phone. Media modern ini tidak cukup kuat menggeser Bahasa Sunda dalam berkomunikasi. Bahasa daerah yang ditengarai terancam punah karena penggunanya makin berkurang secara umum masih memainkan peran yang cukup besar. Dalam acara-acara sosial kemasyarakatan, seperti dalam penyerahan pengantin sebelum pelaksanaan ijab-kabul perkawinan, dalam ceramah-ceramah keagamaan yang biasa diadakan pada pesta khitanan, dan bahkan dalam acara pertemuan-pertemuan formal di masyarakat seperti rapat warga, bahasa Sunda masih menjadi alat utama berkomunikasi, meskiun bahasa-bahasa yang bergaya sastra sudah semakin berkurang.

Pengaruh bahasa lain khususnya Bahasa Indonesia yang dibawa berbagai media massa seperti radio dan televisi pun tidak cukup berpengaruh signifikan bagi masyarakat desa. Meskipun media TV dan bahkan internet semakin membanjir di desa-desa, budaya dan bahasa mereka masih relatif kuat tak berubah. Bahkan, seperti disebutkan sebelumnya, pengauh “kota” yang dibawa pemudik musiman pun tidak menjadi faktor yang kuat berpengaruh, dan malah tidak jarang disikapi norak, mahiwal, sehingga tidak mudah diterima masyarakat desa.

Berkaitan dengan kehadiran media massa khususnya media cetak berbahasa Sunda, belum terlihat adanya efek signifikan dalam kehidupan masyarakat muslim pedesaan. Media cetak seperti Giwangkara, Mangle, Galura, Cupumanik, dan Sunda Midang belum menjadi bahan bacaan dominan masyarakat desa. Secara umum media tersebut belum sanggup menyentuh masyarakat muslim desa. Kalaupun ada, masih dalam jumlah yang sangat terbatas, khususnya lapisan menengah desa seperti guru, atau pegawai negeri lainnya. Dan, kalaupun ada, belum memberikan pengaruh/efek yang signifikan.

Kuatnya eksistensi bahasa Sunda inilah yang kemudian menjadi pesan komunikasi melalui media tradisional khususnya bedug. Cerita pendek Dulag Nalaktak, salah satunya, menunjukkan penggunaan bedug untuk mengekspresikan sesuatu pesan. Misalnya, cerita itu mendeskripsikan suatu kejadian menarik. Suatu waktu, ketika anak-anak sedang ramai ngadulag, sepasang suami-istri yang sedang melepas rindu di kamar rumahnya yang berdekatan dengan tempat anak-anak ngadulag merasa terganggu. Dia minta anak-anak menghentikan dulag, sementara anak-anak masih senang melakukannya.

Anak-anak itu pun mengekspresikan kekecewaannya dengan mengatakan suatu pesan lewat irama dulag seperti berikut:

Tumpak, dedetkeun. Tumpak, dedetkeun.

Tumpak, dedetkeun. Tumpak, dedetkeun.

(menunggang, tekankan…)

Maksudnya, anak-anak itu menyatakan bahwa larangan menabuh dulag itu berkaitan dengan aktivitas hubungan suami-istri yang mungkin tengah dilakukan di kamar rumahnya, yaitu tumpak (naik, menunggang), lalu dedetkeun (ditekan sedikit).

Sub-judul “Bedug” dalam cerita Sunda Geus Surup Bulan Purnama (2005) juga menggambarkan ekspresi kekecewaan masyarakat pada keputusan kiai yang lebih memilih menjadi politisi dan meninggalkan pesantren yang diasuhnya. Penulis cerita pendek itu melihat fenomena sejumlah kiai sebagai penjaga tradisi dan penguasa pesantren dan mesjid yang lebih memilih menjadi anggota legislatif di berbagai level. Dalam cerita ini Bedug digunakan sebagai saluran ekspresif perasaan kecewa mereka karena keterikatannya dengan tradisi dan budaya setempat. Mereka menggambarkan kondisi bedug yang semakin tidak terawat dan bahkan rusak karena ditinggalkan kiai. Bahkan mereka mengkhawatirkan kemungkinan akan punahnya bedug dari kehidupan mereka karena telah kehilangan figur utama yang menjadi pengikat eksistensinya. Semuanya diungkapkan dalam bahasa Sunda.

Daftar Bacaan

Ajip Rosidi (et.al.). Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya. (Jakarta: Pustaka Jaya, 2000).

Anonimous. Ngamumule Budaya Sunda, Nanjeurkeun Komara Agama. (Bandung: Perhimpunan KB-PII Jawa Barat, 2006).

As’ad Said Ali. Pergolakan di Jantung Tradisi: NU yang Saya Amati. (Jakarta: LP3ES, 2008.

Lina Maria Coster-Wijsman, Si Kabayan: Cerita Lucu di Indonesia Terutama di Tatar Sunda. (Jakarta: Pustaka Jaya, 2008).

Usep Romli HM. Dulag Nalaktak: Kumpulan Carita Humor. (Bandung: Kiblat, 2006).

Yous Hamdan. Geus Surup Bulan Purnama. (Bandung: Kiblat, 2005).


[1] Judul ini merupakan hasil revisi dari makalah yang disajikan dalam Workshop tentang Islam dan Kedaerahan yang semula berjudul “Tradisi Komunikasi Masyarakat Muslim Pedesaan di Jawa Barat.

[2] Kebudayaan Pasundan menempati satu kawasan propinsi di Indonesia yaitu Jawa Barat yang hingga tahun 2010 tercatat sebagai salah satu provinsi besar di Indonesia. Tapi jangan pernah menyebut Jawa Barat hanya dengan menyebut Bandung atau kota-kota kecil lainnya di provinsi ini. Jawa Barat sangat luas. Kini telah memiliki 26 Kabupaten dan Kota dengan perbandingan 17 Kabupaten dan 9 Kota. Secara geografis provinsi ini masih didominasi kawasan perdesaan dengan warna kebudayaannya yang secara umum masih kuat mendesa. Secara administratif, lebih dari 5000 wilayah merupakan Desa (kawasan pedesaan) dan hanya sekitar 300 merupakan Kelurahan (kawasan perkotaan). Dari luas sekitar 3.700.000 ha, hanya sekitar 150.000 ha “perkotaan”. Perubahan sosial yang sering menjadi sumber kegelisahan telah terjadinya pergeseran nilai masyarakat tradisional, sesungguhnya masih relatif bertahan pada kultur serta nilai-nilai lama.

[3] Langgar atau Tajug adalah masjid kecil yang hanya digunakan untuk kebutuhan shalat lima waktu, tapi tidak digunakan untuk pelaksanaan shalat jum’at. Selain di pemukiman, langgar dan tajug biasa juga ditemukan di sawah, lading, atau tempat pertanian lainnya di kawasan pedesaan. Ia digunakan untuk melaksanakan shalat para petani yang sedang berada di sawah/ladang.

[4] Cerita-cerita Sunda yang disajikan dalam bentuk tulisan seperti cerita pendek, cerita bersambung, ataupun cerita panjang umumnya bersifat realistis. Ia menggambarkan kehidupan nyata masyarakat, tradisi, dan kebudayaan Sunda. Beberapa dapat saya sebutkan, misalnya, Ceurik Santri, Merebot Kabayan, Bentang Pasantren, dan lain sebagainya.

2 Paperless “Kohkol-Bedug: Media Komunikasi Tradisional Masyarakat Muslim Pedesaan”

  1. [...] penelitian Profesor Asep Saeful Muhtadi, pakar ilmu Komunikasi, yang dipublikasikan dalam situs www.knowledge-leader.net, Kohkol di dalam kehidupan masyarakat agraris-pertanian, banyak digunakan untuk siskamling [...]

  2. harold says:

    drawer@astm.hone” rel=”nofollow”>.…

    tnx for info….

Paperless

© 2010 Knowledge Leader PPS UIN SGD Bandung | Email: redaksi@knowledge-leader.net