Web Statistik

Visitors: 391602

Sedang Online: 2

Rajam untuk Pezina

fauz2Kasus video porno yang konon dilakukan artis belum juga berhenti dipembicaraan media. Hanya saja pembicaraan sekarang-sekarang ini lebih menjurus kepada hal yang “membahayakan” kehidupan berbangsa. Beberapa saudara kita memanfaatkan kasus video ini dengan menyeretnya kepada isu Syari’at Islam. Beberapa saudara kita pun, bahkan sampai turun ke jalan, mengangkat wacana pemberlakuan rajam kepada pelaku zina. Mereka mengerahkan orang untuk berdemo sambil mengusulkan amandemen hukum – kata mereka – “Thaghut” dengan “Syari’at Islam”.

Rajam adalah sanksi hukum berupa pembunuhan terhadap para pelaku zina muhshan (yaitu orang yang berzina sementara ia sudah pernah menikah atau masih dalam ikatan pernikahan dengan orang lain). Rajam dilakukan dengan cara menenggelamkan sebagian tubuh yang bersangkutan ke dalam tanah, lalu setiap orang yang lewat diminta melemparinya dengan batu-batu ukuran sedang (hijarah mu`tadilah) sampai yang bersangkutan meninggal dunia. Bisa dibayangkan kiranya, hukum yang mengerikan.

Perlu diingat hukum seperti ini tak ditemukan dalam Kitab Suci Al-Quran. Kita justru menemukannya dalam Kitab Suci umat Yahudi, Perjanjian Lama. “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel”. (Kitab Ulangan, 22: 22).

Kalau tak terdapat dalam Al-Quran, apa landasan yang dipegang ulama dalam mensyari’atkan rajam bagi pezina? Konon, hukum rajam ini awalnya ada dalam Al-Quran, sebagaimana dikabarkan hadits, “Inna al-rajm haq fi kitabillah `ala man zana idza ahshana min al-rijal wa al-nisa’, idza qamat al-bayyinah, aw kana al-haml, aw al-i`tiraf. Sesungguhnya rajam itu ada di dalam Kitabullah, yang wajib diperlakukan buat laki-laki dan perempuan yang berzina muhshan, ketika sudah cukup bukti, atau sudah hamil atau mengaku berzina.” Konon, ayat itu berbunyi, “as-syaiku wa al-syaikhatu idza zanaya farjumuhuma al-battatah nakalan min Allah (laki-laki dan perempuan yang berzina, maka rajamlah secara sekaligus, sebagai balasan dari Allah).” Dalam perkembanganya, ayat itu dihapus walau hukumnya tetap berlaku, dalam ulumul-Quran dikenal sebagai naskh al-rasm wa baqa’ al-hukm.

Perlu diketahui, argumen di atas bukanlah pendapat semua ulama. Artinya, masalah rajam, banyak ulama yang menolak. Alasan yang diberikan? Kita melihat di atas bahwa syari’at ini berlaku di zaman Nabi Musa. Maka syari’at rajam pun termasuk syari’at man qablana, syari’at sebelum kita (kaum Muslim). Nah, para ulama fikih berbeda pendapat tentang posisi syar’u man qablana. Sebagian ulama berpendapat bahwa syar`u man qablana menjadi bagian ajaran Islam jika itu sudah disebut dalam Al-Quran. Untuk kasus zina, argument ini yang dipegang ulama yang pertama. Argumen ini lemah. Sebab? Kita lihat contoh kasus, perintah untuk membunuh diri sendiri pada umat Nabi Musa. “Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri karena kalian telah menjadikan anak lembu sebagai sesembahan kalian, maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menciptakan kalian dan bunuhlah diri kalian sendiri. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian pada sisi Tuhan yang menciptakan kalian. Maka Allah akan menerima taubat kalian. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Menerima taubat dan Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah: 54). Syari’at ini jelas tak dipakai bagi umat Nabi Muhammad Saw. Sebagian ulama yang lain berkata, bahwa syar’u man qablana bukanlah syari’at kita (umat Islam), karena itu kita tak boleh menjadikannya sebagai dalil hukum. Maka, para ulama dikelompok kedua dengan lantang menolak pemberlakuan syar’u man qablana. Tak terkecuali kasus rajam. “Hukum bunuh diri sebagai jalan taubat saja yang tercantum dalam Al-Quran tak diterapkan, apalagi rajam yang jelas-jelas tak tersurat dalam Al-Quran,” demikian argumennya.

Alasan lainnya dari ulama kelompok kedua, Allah telah berfirman, “Katakanlah (olehmu Muhammad), ‘Hai hamba-hamba yang melampaui batas kecelakaan bagi dirinya sendiri, janganlah kalian putus harapan dari kasih sayang Allah Ta’ala, sesungguhnya Allah Ta’ala akan mengampuni segenap dosa (dosa apa pun itu). Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar: 53). Ayat ini berkata bahwa Allah akan mengampuni semua dosa, bahkan dosa apa pun itu. Surat An-Nisa: 48 yang berkata bahwa Allah tak akan mengampuni dosa musyrik kedudukannya terhapus oleh Az-Zumar: 53. Nah, dosa yang paling besar saja (musyrik) akan diampuni Allah, apalagi dosa zina. Jadi, jika hukumam rajam sampai mati dipakai, dimana letak pertoubatan yang sudah dibukakan Allah seluas-luasnya itu.

Jadi, apakah hukum bagi pezina? Al-Quran berfirman, “Dan terhadap perempuan yang mengerjakan perbuatan keji (zina), hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu yang menyaksikannya. Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah perempuan-perempuan itu sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepada mereka. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kalian, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang” (Q.S. An-Nisa: 15-16). Al-Quran memerintahkan untuk menghukum wanita pezina dengan mengurungnya sampai menemui ajal. Namun Allah berfirman, “sampai Allah memberikan jalan lain”. Nah, jalan lain ini lalu dikabarkan dalam ayat selanjutnya yaitu “menghukumnya” (adzuhuma). Al-Quran hanya berkata dengan sesuatu yang umum! Qatadah dan As-Sudi misalnya berpendapat bahwa adzuhuma disini maksudnya at-taubikh wa at-ta`yir wa as-sabb – mempermalukan, menjelek-jelekkan, dan mencaci. Ibn Zaid beda lagi, ia mengusulkan agar orang yang berzina dilarang menikah sampai yang bersangkutan meninggal dunia. Ulama yang lain mengusulkan dengan dipenjara saja. Intinya, tujuan yang hendak dicapai adalah membuat pelaku dosa jera. (lihat, Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 3, hlm. 80).

Tapi, bukankan Rasulullah pernah merajam pelaku zina? Jawabnya, benar. Kisahnya seperti ini. Seorang wanita datang menemui Rasulullah, “Ya Rasulallah, qad zanautu fathahhirnî. Ya Rasulallah, aku telah bezina, sucikanlah aku.” Lalu, ia meminta Rasul menghukumnya dengan hukuman rajam sampai mati. Rasul yang mulia menolak dan menyuruhnya datang esok hari. Esoknya, wanita itu datang lagi, kali ini datang bersama laki-laki teman zinanya. Kedua penzina itu lalu meminta hal serupa dan meyakinkan Rasul bahwa wanita itu telah hamil. “Pulangah,” kata Rasul, “Sampai engkau melahirkan anakmu.” Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi dengan bayi merah yang dibungkus kain. Lagi-lagi Rasulullah menolak untuk merajam mereka, “Pulanglah, susukan anakmu sampai engkau sapih.” Setelah sekian lama, wanita itu datang lagi dengan bayi dan sekerat roti. “Hada ya Rasulallah, qad fathamtuhu wa qad akala at-tha’ama. Ini ya Rasul, sudah aku sapih anak ini, dan ia sudah makan makanan.” Nabi menyuruh seorang sahabat agar merawat anak hasil zina itu. Beliau akhirnya menetapkan hukum rajam. Ketika darah wanita itu membersit dan mengenai wajah Khalid bin Walid, Khalid memaki wanita itu. Rasulullah Saw. murka, “Celaka kau, Khalid. Demi zat yang diriku ada ditangan-Nya. Wanita ini telah bertaubat dengan satu taubat yang sebenar-benarnya sehingga kalau ada pendosa besar bertaubat maka Allah pasti mengampuni dosanya.” (H.R. Muslim dan Abu Daud).

Bila kita cermat membaca kisah ini, sepertinya Rasulullah itu enggan untuk merajam wanita Ghamidiyyah dan Mu’iz bin Malik Al-Islami. Terkesan disana Rasulullah hanya menginginkan pertobatan mereka secara penuh kepada Allah, sampai-sampai Rasulullah murka ketika Khalid memaki-maki wanita itu. Hanya karena “dipaksa dan terpaksa” saja beliau akhirnya merajam kedua pelaku zina itu. Terlebih, hukum seperti itulah yang paling tepat untuk zaman itu.

Akhirnya, bila kita kembali kepada Al-Quran,  kita bisa mencari jenis-jenis hukuman lain yang lebih relevan dan sesuai dengan konteks keindonesiaan kita bagi pelaku zina, sebab Al-Quran berkata dengan sesuatu yang umum. Disinilah diperlukan kedewasaan dari umat Islam, bahwa yang namanya “syari’at Islam” itu adalah konsep abstrak yang para ulama berbeda pendapat dalam memberikan “isi” terhadapnya.

Terakhir, mari kita berdoa agar negara, terutama daerah kita Tasikmalaya, terjauh dari segala bentuk pornografi dan perzinahan.

Wallahu ‘alam.

Sumber Surat Kabar Priangan, 14 Januari 2011

Paperless

© 2010 Knowledge Leader PPS UIN SGD Bandung | Email: redaksi@knowledge-leader.net